Rabu, 21 Januari 2009
Kamis, 15 Januari 2009
tak lagi lelah oleh lelapmu
Dan kali ini ketika segalanya berlalu dan aku tidur dengan kaos bertuliskan "be single, be free" Aku merindukan rengkuhan itu. Saat-saat ketika subuh datang dan Aku menatapmu dengan mata terkantuk terantuk RASA tapi tanganku yang lelah meraih lenyap untuk memelukmu.
Aku merindu semalam lagi dikamarmu dengan rengkuhan yang akhirnya bisa kueratkan mengelilingimu dan dunia mimpimu.
Semalam lagi tak kehilanganmu agar dapat kupastikan suatu harinya nanti kamu dapat tidur dengan bibir tersungging penuh senyuman.
You alone can make my song take flight -
David Cook-The Music of The Night
Minggu, 14 Desember 2008
harapan sebuah malam
agar senantiasa kudengar suara langkahmu
memasuki mimpiku
Jumat, 14 November 2008
engkau
ataukah terkekeh karna aku menghamba pada Tuhan yang salah?Katamu Tuhan itu jauh sangat,
tapi aku menemukannya sangat dekat padaku.Dia ada diantara berpasang bola matamu,
mengawasiku hingga Aku menggelepar dalam ketiadaan.
dan jawabmu Tuhan seperti angin tak berlengan, berkaki, lagi tak berindera
Tergoda untuk menyelidik pada pusat semestaku, Tuhanku.
Engkau berlengan, berindera lagi berkaki,
tetapi tatkala Engkau jauh direnta zaman dan diuap angin melayang menjadi roh,
Aku kemudian menemukan jawab ini.
Rohmu tak berlengan tapi senantiasa merengkuhku dalam hangat,
tak berkaki tapi senantiasa selangkah dihadapku menghantuiku lewat isyarat yang ditangkap inderaku.
Lagi tak berindera karena segenap inderaku yang berpasang menjadi satu denganmu.
Aku punya Tuhan yang salah, rasa Cinta yang tak bermaksud.
Kamis, 30 Oktober 2008
architect, create your own life
CALCUTTA, KAMIS - Sebuah bank di Kota Calcutta, India membuka sebuah rekening untuk seorang pengemis yang telah mendepositokan 91 kilogram koin di salah satu brankasnya. Laxmi, sang pengemis itu mengatakan bahwa dia telah mengumpulkan dan menyimpan koin tersebut saat dia mulai mengemis. Saat ini sudah lebih dari 40 tahun dia mengemis gara-gara polio yang diderita sejak masih kanak-kanak. "Saya menyimpannya untuk saat dimana saya sudah tidak bisa lagi mengemis," ujarnya kepada BBC. "Saya tahu suatu hari saya akan menua dan sakit-sakitan. Karena itu saya menyimpan seluruh uangku untuk masa pensiun. "Sekarang buah dari upayanya mengemis di perempatan jalan di Calcutta utara ini mewujud. "Dia bisa menjadi model contoh untuk membangkitkan semangat banyak orang dalam menabung," ujar TK Haldar, manajer Bank Central India cabang Maniktola.Percontohan. Mungkin hal itu yang paling sulit untuk kita tiru menyangkut hal-hal baik dalam segala aspek hidup ini. Laxmi mungkin salah satu contoh positif bagaimana seseorang dalam masyarakat kelas bawah yang hampir sama dengan golongan kelas bawah lainnya di Indonesia ini, mengusahakan takdirnya tidak dengan berpangku tangan tetapi menjadi arsitek untuk segala rencana hidupnya.Dengan jujur dan secara pribadi kekaguman saya membuat saya dapat mempredikatkannya sebagai 'pahlawan'. Pahlawan mungkin tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi bagi banyak orang lainnya di luar sana yang termotivasi atas tindakannya.
Tindakan arsitek juga turut digambarkan oleh Ibu Muslimah. Ibu Muslimah yang kukenal hanya dari tontonan layar bioskop "LASKAR PELANGI" menularkan agresivitas dan apresiasi kepada banyak orang diluar sana. Melalui tindakan nyatanya yang percaya pada keutuhan mimpinya di masa depan kepada hak setiap anak untuk mengenyam pendidikan Ibu Muslimah akhirnya dengan tulus ikhlas menyerahkan kehidupannya walaupun hanya sebagai seorang guru miskin."Tidak perlu orang jenius untuk menggantungkan bandul takdirnya" mungkin itulah kacamata yang dapat kulihat dari kedua wanita dari dua sudut dunia ini. Menjadi arsitek barangkali kata itulah yang setali menautkan dan entah aku dapatkan dari mana tetapi kata-kata selengkapnya berbunyi seperti ini :
Kamis, 23 Oktober 2008
Aku, Ibuku, Dia dan Sebentuk Gunting Kuku
Suara nyiru itu barangkalilah yang lebih sering kudengar bila dibandingkan dengan suara Ibuku sendiri. Bila suara nyiru itu menghilang mestilah Aku tahu kemana Ibuku berada. Kalau tidak bersiap di dapur mempersiapkan jajanan yang akan dibawanya keliling, pasti saja siap dengan luku dan cangkul membantu Ayahku di pematang sawah.
Kehidupan yang serba hemat kala itu apalagi dengan tidak menyewa pekerja untuk membantu kegiatan harian di sawah membuat pundi tabungan kami selalu lebih tersedia. Usaha warung pun dirujuk Ibuku dengan hampir tanpa lelah. Kegiatan pun diisi hampir sehari penuh dalam diam. Pagi dengan suara beras dan nyiru, siang diisi dengan suara orang bising di warung, sore dengan suara hening dimana di kejauhan sepasang orang berdiri dengan luku dan cangkulnya.
Tahun berganti dan kehidupan di desa menjadi tidak sama lagi. Impian yang terlalu tinggi akan kerlap kota membuat urbanisasi tak terelakkan. Sawah-sawah pun dijual dan inilah pertaruhan yang nantinya merupakan awal dari kehidupan keluarga kami. Ayahku membeli sawah-sawah tersebut dengan harga yang tentu saja lebih murah dari harga pasaran saat itu.Sedikit demi sedikit hektaran luas tanah menjadi milik keluarga kami. Walaupun demikian Ayah dan Ibuku masih bersikap sesederhana dulu. Pekerjaan yang dulu Aku pikir hampir tak ada habisnya kini digenapi lebih dengan sekuat tenaga dan waktu.
Bertahun kemudian Keluarga kami menjadi salah seorang petani sukses di Desa. Impian untuk menyekolahkanku di Kota menjadi bukan sekadar mimpi muluk-muluk tetapi perwujudan nyata. Saat itu usiaku beranjak 18 tahun ketika Ayahku menyuruhku mengemas barang-barangku "Seminggu dari sekarang Engkau mestilah menjadi bagian dari pemuda-pemuda kota itu, Anakku" bisiknya kala itu.Malam terakhir sebelum keberangkatanku kusempatkan diriku bermanja-manja di samping Ibuku. Aku duduk didekat dirinya yang sedang duduk serius menonton televisi dengan kedua tangannya sibuk memainkan ayaman ketupat satu persatu. Kuawasi dirinya dengan kulit legam terbakar mentari dan sinar kelelahan yang sayu di kedua bola matanya. Kuku jarinya menghitam tercampur tanah.
Saat itu dengan sedikit inisiatif kuhentikan gerakan tangannya yang menjahit ketupat-ketupat itu, kugenggam sebentar lalu kuambil gunting kuku dekat meja TV. Aku mematuk-matuk patah semua kukunya hingga rapi. Pekerjaan itu pun kulakukan dalam sedekap kediaman kami. Hampir selesai adanya ketika Ibuku berseloroh "Seperti kuku, ada kalanya sesuatu harus dilepas dari jemari kita seperti Aku merelakanmu lepas dan tumbuh menjadi pemuda yang baru."Benda terakhir yang kuselipkan ke sampiran tasku sebelum keberangkatanku mungkin hanya sebentuk gunting kuku dan dua helai jemari kuku Ibuku yang terserak disebuah plastik pembungkus obat. Aku mengumpulkannya seketika untuk mengingatkanku betapa sebuah kuku berbau tanah desaku adalah mula awalku.Aku terdiam sambil mengira-ngira siapa wanita itu. Bermenit kemudian barulah kusebutkan nama Ayahku melengkapi pertanyaannya tadi. Dibukanya pintu itu lebih lebar sambil mempersilakanku masuk dan berceloteh tentang Ayahku dengan tangan menunjuk-nunjuk ke pematang sawah yang terentang.
Hampir malam ketika Ayahku pulang ke rumah. Dengan bersegera Aku menghampirinya dan mataku otomatis ingin menangkap sosok bayang Ibuku yang senantiasa berlindung dibalik punggung Ayahku. Tapi kali ini tidak ada sosok itu dibelakang punggungnya.
Ayahku tidak lagi berpakaian sederhana. Dia memakai pakaian khas mandor pedesaan. Aku menyapa Ayahku yang sebentar kemudian hampir terasa asing. Jeda kediaman kami mau tak mau membuatku mengalihkan pandanganku pada sosok wanita yang sejak tadi duduk mengawasi kami.
Kali ini wanita tadi tersenyum lebih lebar, sikapnya menjadi lebih manja hampir dibukanya mulutnya tetapi diurungkannya ketika dilihatnya seorang masuk dari pintu samping. Wanita yang satu itu hampir tak terurus, rambutnya digerayangi uban, kulitnya legam selegam bayangan, matanya tak dilirikkannya sampai suaraku memanggilnya "Ibu?" begitu sahutku.
Suaraku membuat kepalanya meneleng sedikit, kemudian dengan bergegas dia menghampiriku, mengerjap-ngerjapkan matanya seakan tak mempercayai pandangannya dan hampir tanpa suara menarik tanganku dengan keras sehingga kami, Ibu dan Anak berlalu dari ruangan itu. Aku sampai pada sebuah ruangan dengan ranjang besi didalamnya dan perabot sederhana dan lampu berwarna kuning ketika ditutupnya pintunya, dihampirinya Aku dan tanpa banyak kata sebuah tamparan singgah di pipiku."Aku tidak menyuruhmu untuk pulang" begitu sahutnya dengan nada tertahan. "Aku hanya rindu" sambungku dengan bingung. Dan seketika tangisnya meledak keluar. Dibelakanginya diriku dan disuruhnya Aku keluar.Hari itu seluruhnya merupakan teka-teki sampai keesokan harinya tanpa sengaja kulihat Ayahku pagi itu keluar dari kamar lainnya, kamar wanita itu. Segera saja tanpa ucap pun Aku tahu peran wanita itu dalam keluarga kecil kami. Bak beras yang ditaburkan di atas nyiru itulah Ibuku dan wanita itu laiknya buah padi yang menguning dalam masa keemasannya untuk dituai.Saat itu tamparan Ibuku tidak terasa lebih sakit daripada apa yang kuketahui sekarang. Keputusan Ibuku pun untuk tidak mengizinkanku pulang akhirnya terjawab sudah. Udara sejuk pagi desa menjadi sesak oleh bau semilir tubuh wanita itu yang merapat didekatku tatkala membukakanku pintu.Kenyataannya diperjelas dari sepotong-sepotong cerita yang kuperoleh dari tetangga-tetanggaku. "Semenjak dahulu, Kecantikan dan kemudaan adalah senjata" begitu dengus nenek yang mengenalku semenjak kecil ketika hal itu kutanyakan.Tidak lain motifnya juga turut diperkuat oleh keinginan Ayahku untuk memperoleh seorang anak lelaki lagi. Tetapi karena kehendak Sang Dewata lain lagi. Wanita itu tidak kunjung hamil juga walau malam demi malam Ayahku menghabiskannya di bilik kamarnya.Tangisan Ibuku saat kepulanganku menjadikanku tahu bahwasanya tidak ada yang lebih indah untuk dirinya daripada seorang Aku yang selalu dilindungi dan dihindarkannya dari kepahitan. Kenyataannya rasa dendam akhirnya melingkupi kurung hatiku jua. Aku menyusun rencana laiknya sinetron untuk mengenyahkan wanita itu dari keluarga kecil kami.Yah, kecantikan dan kemudaan adalah senjata dan diusiaku yang 26 tahun ini kudapati fisik yang sempurna. Otot kekar masih menyembul dari badanku, wajahku yang biasa saja dibaluti misteri kediaman Ibuku yang dominan membuatku tampan bagi sebagian orang, termasuk wanita itu.Ketika Ayah dan Ibuku bergerak ke kehijauan sawah, mestilah wanita itu sibuk bergerak mendekatiku dengan segala daya tarik pesona yang dikira dimilikinya. Aku pun meladeni kemanjaannya dengan maksud tertentu. Aku bermaksud agar nantinya ia bisa kubujuk rayu ke kota meninggalkan Ayahku hingga sesampainya di kota Aku dapat saja dengan leluasa mencampakkannya."Kamu penuh pesona Met" begitu sahutnya suatu kali.
Begitu keluar dari kamar wanita itu segera disuruhnya Aku mengemas barang-barangku untuk secepatnya mengejar kereta malam itu kembali ke kota. Ibuku berdiri mematung saat itu, sekonyong-konyong menghampiriku lalu memelukku sambil menangis terisak.
Dimasukkannya jemarinya dalam genggaman tanganku sampai jari kami merasakan benda dingin ditengah telapak kami. Sebentuk gunting kuku. Aku menyerahkannya ke telapak tangannya sambil berbisik "seperti kuku, ada kalanya sesuatu harus dilepas dari jemari kita, dan Aku melepaskan segala beban resahmu pada wanita itu"Ibuku menggeleng dan menangis sejadi-jadinya sambil berbisik pahit "Kalaupun Aku kehilangan cintaku pada Ayahmu, tak ingin kehilangan cahaya bahagiaku disisimu Anakku."Sebentuk gunting kuku kini bergulir ditengah telapak tangan legamnya ketika Aku memasuki gerbong-gerbong kereta itu. Kereta bergerak menerabas dingin malam ketika wanita itu hilang di kejauhan.Aku mengetahui kabar dari Desaku tidak lama kemudian. Wanita itu turut diusir juga dari rumah kami, Dia akhirnya kehilangan Ayahku. Ibuku kehilangan Aku, anaknya.dan tentang Aku?Aku kehilangan banyak waktu yang harusnya bisa kuanyam dengan Ibuku di latar desa dengan anak sungai sepanjang kasih Ibuku. Aku baru berani kembali bertahun-tahun kemudian ketika Ayahku memanggilku karna Ibuku menderita penyakit keras dan mengigau tiap malam memanggil-manggil namaku.Di bunyi yang didengungkan surau subuh itu Aku kehilangan Ibuku akhirnya setelah bergelut sementara setelah Aku kembali disisinya. Benda terakhir yang kudapati di bawah bantalnya hanya sebentuk gunting kuku. Dan kembali kudengar suara Ibuku saat itu "Seperti kuku, ada kalanya sesuatu harus dilepas dari jemari kita seperti Aku merelakanmu lepas dan tumbuh menjadi pemuda yang baru."Ini hanya kehendak Tuhan Aku bisa melewatinya, tapi Aku tak bisa melupakannya...Rabu, 01 Oktober 2008
sepasang
Senin, 15 September 2008
24
bersendiri terlahir dan hari memang sendiri.
tak ada kado hanya kata yang menguap,
sembari tak bersisa
dan aku hanya penuh oleh waktu
yang berdetak nyaring dalam hampa.
karna Aku butuh Engkau
untuk nafas yang ingin kuraih bahagia,
pada hidup yang ingin kulabuhkan dengan
rasa sederhana, Bahagia.
dengan dua tangan menangkup doa di dada,
tanpa sebuah permintaan, apalagi harapan
Terima Kasih, Tuhan.
meski tak tahu


