Senin, 15 September 2008

24

izinkan aku merengkuh dalam sejenak diam,
bersendiri terlahir dan hari memang sendiri.
tak ada kado hanya kata yang menguap,
sembari tak bersisa

24
dan aku hanya penuh oleh waktu
yang berdetak nyaring dalam hampa.

kali ini jangan bercokol dalam hatiku saja, Tuhan
bicara atau teriaklah padaku,
karna Aku butuh Engkau
untuk nafas yang ingin kuraih bahagia,
pada hidup yang ingin kulabuhkan dengan
rasa sederhana, Bahagia.

dan takdirmu kugenapi dengan rasa syukur,
dengan dua tangan menangkup doa di dada,
tanpa sebuah permintaan, apalagi harapan
Terima Kasih, Tuhan.
meski tak tahu

Kamis, 14 Agustus 2008

be it unto me

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga 15 Agustus ini barangkali sebuah permenungan kecil utamanya untuk diriku sendiri. Tepat setahun yang lalu hari ini kukenang sebagai lembaran dimana Aku mengenal Bunda ku ini selain sesosok wanita bernama Ibu. Mengenal dalam kosakata ini bukanlah dalam arti tidak tahu sama sekali, tetapi seyogianya sadar dan mengerti akan segala sikapnya saat itu.

Setahun yang lalu Aku dan sahabatku berboncengan menyusuri kotaku dimalam hari. Ketika itu Aku seperti dihampiri perasaan kangen pada Bunda-ku ini. Perasaan kangen itu bukannya muncul tanpa sebab, tetapi dikarenakan tanpa sengaja lewat di depan Bumi Katolik Rajawali (tempat berkumpulnya semua orang beragama Katolik setiap 15 Agustus.red).

Perasaan kangen tadi tidak kunjung membuatku singgah ke tempat itu. Hal itu membuatku justru mendiskusikannya karna dengan sikap yang cenderung bertanya, sahabatku menanyakan "Mengapa Maria justru mengambil peran penting dalam Agama Katolik?"

Pertanyaan tadi hampir sekorelasi dengan hirau pikuk diluar yang mempertanyakan Maria dengan segala perannya dalam Gereja. Aku ingat ketika dengan mendengus seorang kerabatku menyatakan "Setiap wanita bisa saja mengandung dan melahirkan Jesus Kristus tanpa terkecuali." Ungkapan pernyataan tadi justru menyiratkan bahwasanya Bunda Jesus tadi hanya mendapatkan sedikit keberuntungan, just magic only.

Semua akal dan daya upaya di alam pikirku kukumpulkan untuk menjawab fenomena tanya ini, tapi sekiranya dalamnya rasa keagamaanku hanya sekecil biji timun. Tidak mudah untuk menjawabnya, sampai kuputuskan untuk membawa sahabatku berdoa di depan patung Bunda Maria.

Malam sudah larut ketika Aku memutuskan mencoba berdoa di depan Bunda Maria. Dengan sedikit keras kepala Dia hanya menyaksikan diriku dari jauh ketika Aku berdoa. Semakin malam ketika suara jangkrik turut menghiasi selesainya doaku. Pelan-pelan Aku berjalan dalam remang malam sambil mengingat semua kisah-kisah Maria, Bunda Jesus.

Kepolosan mata patung Maria saat itu akhirnya memberiku jawaban yang tak lagi kosong. Aku mempercepat langkahku menghampiri sahabatku dan berkata dengan nada riang terselimut sunyi "Tahu gak kenapa Aku suka Maria?" Dia menggeleng. Aku pun menggeleng.

"Karna Dia tidak senaif kamu yang selalu mempertanyakan. Dia hanya berserah dengan sedikit kata yang terpatri selalu Jadilah padaku seperti yang Engkau kehendaki...."

Kala itu sahabatku memelukku dan berkata demikian "Be it unto me"

Dan demikianlah bilamana ada yang bertanya kepadaku "Mengapa Maria?" jawabnya selalu pada kesederhanaan kata "Be it unto me- Jadilah padaku seperti yang Engkau kehendaki.."

Bahkan ketika seorang wanita sezamannya didaulat hamil tanpa seorang suami, saya pikir tak ada yang seikhlas Maria dalam mengamini segala sesuatunya. Jin, tuyul ataukah malaikat yang akan dikandungnya kelak tidak ada jeda tanya untuk itu. Hanya kepercayaan sederhana yang diberikannya kepada Tuhannya selalu.

Kamis, 07 Agustus 2008

leaf four clover;suatu logaritma keberuntungan

08 Agustus 2008

Jejak memorable hoki tergurat di angka 8 tahun ini. 888....

Hoki? Keberuntungan? Inilah mungkin yang selalu diharapkan untuk selalu turut serta dalam sentuh corak hidup kita. Seakan inilah penyemarak yang selalu diiringi sorakan kala kita mendapatinya singgah di hidup.

Dalam damai doa kita selalu berbisik meminta diberikan anugerah rahmat kepada TYME, sungguh anugerah dan rahmat yang dimaksud tak lain hanyalah keberuntungan. Seperti bermain judi roullete, kepasrahan dalam doa kadang tidak berisi pernyataan syukur semata, tetapi berujung pada permintaan yang sederet tetapi dirangkum dengan sekata Anugerah/Rahmat.

Suatu sindiran pernah saya simak di internet berbunyi demikian "in god we trust. in gold we trust?

Saya sendiri bisa secara otomatis lebih memilih kata in gold i am trust, dengan kemungkinan sifat manusiawi yang lebih kuat membatini saya.

Suatu kali pernah terpaku membaca sebuah cerpen yang dimuat di sebuah harian kotaku berjudul "Doa yang mengancam". Cerpen itu kalaulah kuingat kembali lebih berkisah bagaimana tokohnya dengan mengharap sedikit keberuntungan melakukan tawar-menawar keinginan dengan Tuhan-nya.

Tak ada yang salah. Kita melakukan itu juga acap kali, dengan rasa hati atau permintaan yang barangkali lebih diperhalus entah karena kita takut pada kemurkaan Tuhan, entah...

Dengan mengharap keberuntungan pulalah, maka pada tanggal 08-08-2008 yang menggerakkan orang-orang berbondong melakukan ritual pernikahan, kelahiran anak (melalui caesar.red) atau kepentingan-kepentingan lainnya dengan seabrek harapan.

Keberuntungan dan Harapan seperti hampir terpaku erat sekoin untuk dibagi bersama. Law of attracttion, itulah yang diulas oleh Prof. Richard Wiesman yang lewat bukunya "The Luck Factor" mencoba mengurai bagaimana keberuntungan melingkupi dunia kita.

Survey yang dilakukan Wiesman ternyata mendapati bahwasanya keberuntungan diperoleh atas sikap dasar positif terhadap segala sesuatunya dan harapan yang besar bahwa segala sesuatunya akan berjalan baik.

Belajar dari rahasia berpikir positif dan selalu mempunyai harapan pulalah maka tak ada salahnya kalaulah kita dapat sedikit saja diam mengkritisi sesuatu. Ketika hari ini membuka blog dan mendapati blog saya sedikit banyak berisikan kesinisan dan kritisi, maka tak ada salahnya hari ini menu yang ditampilkan disajikan berbumbu unik kata bernama Keberuntungan dan Harapan.

Dengan harapan pulalah, Saya berharap orang-orang yang kebetulan mampir, numpang lewat ataupun yang sengaja membaca serius blog ini dapat menularkan hal-hal positif kepada orang-orang di sekitarnya. Semoga beruntung!!!

Jumat, 25 Juli 2008

pernikahan dalam selembar amplop

Mengapresiasi kehadiran sebagai sesuatu hal yang mutlak ada sebelum terjadinya perpisahan, merupakan suatu dan lain cara hukum sebab-akibat bekerja. Tak terkecuali dan juga tak terelakkan, begitulah kira-kira daya yang muncul seperti medan kutub magnet yang tarik-menarik.

Di awal bulan ini, beberapa acara resepsi pernikahan merebak mengunjugiku, bertamu dengan hanya selembar surat undangan di mejaku setelahku kerja dan kembali pulang ke rumah seperti ditodong untuk bersua dengan tetamuku tadi. Kehadiranku di setiap nuansa kebahagiaan pernikahan mempertontonkanku bahkan seperti yang digaung-gaungkan oleh tiap MC-nya bahwasanya inilah akhir penantian setiap pasangan, bersatu dan terikat dalam sakralitas Cinta dan Tuhan.

Paket-paket kecil itu menyajikan surga yang wah as usually tentunya.

Yang mengingat dan yang berlupa, mungkin itulah gambaran yang akan sangat tepat bilamana kabur jejak antara pertemuan dan perpisahan. Dalam suasana keriuhan seperti tidak ada yang sadar bahwa inilah detik-detik perjumpaan dan perpisahan merangkul erat. Orang tua harus rela kehilangan anak-anaknya untuk bersua dengan orang lainnya.

Satu dan lain cara yang dihimpun pun tidak bisa menghindarkan hukum yang bekerja. Beriringan, satu jalan.

Pernah suatu kali terpikir olehku dengan imajinasi fantasi bahwasanya warna undangan pernikahan yang rata-rata dipilih kemungkinan didominasi oleh warna merah ataukah putih dengan alasan adanya pertumpahan darah. Kelahiran baru, karakter baru.

Pertemuan dan perpisahan mengguratkan makna eksistensi kehadiran masing-masing dari kita. Meski demikian tidak semua orang lantas mengamininya. Seperti seorang anak kecil dengan manjanya kita tidak bersedia kehilangan hal-hal yang menurut kita menarik.

Tetapi apapun daya upaya kita semua berjalan seperti semestinya. Bentuk kesadaran itu pun kemudian ketika dikaitkan dengan sakralitas Cinta dan Tuhan seperti menemui jejaknya sendiri.

Pertemuan, Perpisahan, Cinta dan Tuhan menemukan kesadarannya dalam sakralitas rasa pahit-manis akan pemahaman kita masing-masing. Gambar realitas Pernikahan pun akhirnya menggabungkan semuanya akan jejak ke depan, sebuah jejak yang ketika dilangkahi pun masih penuh misteri.


"Kadang-kadang Tuhan mengirim surat cinta-Nya dalam amplop yang pinggirannya hitam. C.H. Spurgeon."

Rabu, 16 Juli 2008

only hopeless in pandora box

Sejatinya setiap kemenangan hampir selalu menaruh harapan yang jamak. Harapan itu bisa bermacam dalam rupa ataukah identifikasi kesuksesan, popularitas, kekayaan, ketenaran, kebanggaan, dll.

Membaca peluang akan harapan dan kemenangan yang dicari oleh setiap orang, maka tidaklah mengherankan bila dalam beberapa tahun belakangan bermunculanlah program-program layar kaca yang bermuara atau berakhir dengan persona individual “WINNER”.

Persaingan diatas pentas pada akhirnya melahirkan pesona drama baru. Setiap individu yang berlaga mencapai kemenangan itu menampilkan pentas akan makna pencapaiannya dengan berbagai sikap dan cara, dan tentu saja kemampuannya sesuai item konteks programnya.

Kontes kecantikan Miss Universe misalnya yang diusung 14 Juli 2008 lalu adalah salah satu contoh acara kontes dengan tema “Ratu Sejagat” yang awalnya merupakan cara Pacific Mills untuk mempromosikan produk pakaian renang Catalina mereka pada tahun 1952. Tidak banyak yang tahu,bukan? He8x. Pada tahun 1996, Donald Trump membeli hak kepemilikan kontes ini yang kemudian ditayangkan CBS dan pada 2003 beralih ke NBC.

Kontes kecantikan ini menaruh harapan yang prestisius akan makna kecantikan dari setiap negara, suku, budaya, dan harapan lainnya. Euforia pesta kontes ini yang walaupun banyak melahirkan pro dan kontra tetapi tidak dapat dipungkiri bahwasanya juga menaruh harapan dari setiap pemirsanya.

Kontes serupa seperti idol-idolan pun makin marak masuk dan menjarah, tidak hanya menjanjikan mimpi atau harapan yang jamak juga disertai eksklusivitas image yang ditiru.

Arti kemenangan kemudian bergeser yang pro dengan kontes tersebut menganggap itu sebagai kebenaran menyeluruh sedangkan yang kontra melihat hal tesebut sebagai hanya pertaruhan kanibal dengan pelbagai cara dan senjata.

Kontes kecantikan Miss Universe misal menuai komentar bahwasanya kontes tersebut seperti kontes persaingan boneka-bonekaan Barbie. Tapi dari komentar yang lainnya mengganggap kontes tersebut sebagai pertukaran untuk diperlihatkan ke mata dunia.

Ketika menulis blog ini seperti merenda garis tipis pro dan kontra menjadi bahan pemikiranku. Harus ada yang dipihak ketika menulis sebuah ide ataukah pemikiran. Tetapi kali ini benar-benar meragu.

Setiap kali menonton kontes-kontes serupa, Aku kemudian berpikir bahwasanya hampir setiap acara-acara tersebut akhirnya merupakan kesatuan harapan banyak orang yang bertumpu pada satu atau orang lainnya. Begitu langkanya kita untuk selalu menaruh harapan dan impian mempercayakan pada diri sendiri.

Mungkin hal inilah yang disimak program-program tersebut, sehingga sebuah kontes selalu memunculkan harapan, impian, dan tentu saja yang selalu diidam-idamkan dalam mimpi seorang/sesosok image bak pahlawan "Sang Pemenang".

Saya merasa cantik saat saya memikirkan bagian dalam diri saya. - Nelly Hayatghaib.

Bisa jadi kata-kata itu diciptakan Nelly ketika melihat dari layar kaca ratusan wanita melenggok diatas pentas dan turut merasakan dirinya hadir disana berjalan dengan daster diatas pentas, dan tetap merasa cantik, bahkan dia yang mendapatkan mahkotanya.

Yah, Harapan.

Bahwasanya Harapan yang merupakan satu-satunya yang tersisa dari kotak kecil Pandora adalah hanya satu-satunya jalan menuju Kemenangan. Kemenangan bagi diri sendiri. Impian bukan sekadar untuk digantungkan pada orang lain, tetapi seyogianya bertumpu pada diri sendiri. Merasa diri sendiri adalah Pahlawan dan Sang Pemenang.

Dan pada waktunya seperti kata-kata yang dituliskan Pliny the elder "Harapan adalah tiang yang menopang dunia. Harapan adalah mimpi orang-orang yang sedang tidak tidur.

Jangan pernah tertidur untuk terus mengurai harap dan mimpi menyaksikannya sebagai layar kaca kemenangan Anda pribadi dimana Anda ataupun Aku menjadi persona Winner bagi diri kita sendiri.

Jumat, 04 Juli 2008

still hurt but also still survive;to fight

Harian Pagi Fajar Makassar, Sabtu, 5 Juli 2008 pada halaman utamanya menurunkan topik berita dari belahan dunia lainnya, Perancis. Berita tersebut menyebutkan perihal pembebasan mantan calon Presiden Kolombia (2002.red), Ingrid Betancourt dari sekapan kawanan pemberontak Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC), setelah disandera selama 6.5 tahun.

Menguak jendela takdir dari jembatan yang penuh ketidakpastian, terbukti akhirnya memberikan kebebasan yang penuh, dengan napas lega setelah ditempa penuh keputusasaan. "Saat leher Anda dirantai, Anda hanya bisa menerima nasib tanpa melupakan siapa sebenarnya diri Anda. Saat itu, saya mencapai titik dimana saya memahami bahwa kematian adalah hal yang sangat mungkin." ucap wanita kelahiran 25 Desember 1961 itu.

Pada kolom tersebut juga dituliskan bagaimana Betancourt menggambarkan bahwa rasa sakit yang dirasakannya tak ubahnya sebagai serangkaian masalah yang saling bertumpuk. Dia mengaku tidak bisa menjaga diri hingga menjadi kurus, tidak bisa bergerak, dan tidak berdaya. Bahkan untuk minum pun kesulitan. Saat-saat itu digambarkan Ingrid sebagai situasi yang benar-benar kritis baginya.

Pemasungan kebebasan sebagai hak asasi mahluk Tuhan juga turut diurai pada harian yang sama, tetapi dari dalam negeri sendiri, Indonesia. Di wilayah Propinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di kabupaten Bulukumba, dua orang dari keluarga berbeda dipasung oleh keluarganya dengan alasan penyakit jiwa.

Satu perkara yang pelik bergumul dengan keadaan "membenarkan". Tapi pernahkah bertanya?Barangkali tidak. Pilihan dirasakan buntu tanpa jalan.

Kenangan yang sama pernah terurai dari ceritera salah seorang karibku. Kisahnya tentu saja tidaklah sama dengan story pemenjaraan kebebasan diatas. Tetapi barangkali punya persepsi yang sama yang dilakukan oleh banyak orang atas kehendak dan pilihan pribadi.

Cinta yang membutakan.

Aneh? Barangkali tidak lagi, karena pengalaman inilah yang subjektif dan vokal diantara kita.

Sungguh. Berjuta orang melakukannya terjebak dalam kenangan cinta masa lalunya, memasung kebebasan hatinya dengan selalu berkata 'tidak dapat melupakan cinta sejati yang didapatinya'. Tapi benarkah kata bodoh berlabel 'KESETIAAN' selalu benar? Pernahkah anda bertanya kalaulah SETIA kadang ciri perspektif yang salah?

Suatu hari di tengah malam, seorang karib saya bahkan menangis menyatakan betapa Dia setelah sekian lama tidak pernah dapat melupakan kekasih yang dicintainya. Sampai katanya dengan nada tertahan " mungkin dia itu berasal dari tulang rusuk saya". Dan akhir malam itu diakhirinya dengan sebuah sms berbunyi "still hurt but also still survive".

Rasa sakit pemasungan diri sendiri (baca: hati.red) itu justru berujung lebih tragis karena berefek seperti penenang, bius dan anestesi yang berbunyi "survive", bukannya "to fight".

Pada ujungnya ketika diperdebatkan tak penah salah, tetapi juga tidak betul-betul benar. Kebebasan kadang seperti imaji yang didamba tapi tak direngkuh terpatron pada berbagai tetek bengek, terikat pada hal-hal seperti luka hati, pekerjaan, dan pelbagai pergulatan lainnya dengan diri sendiri.

Pemasungan nyatanya menyedihkan dalam segala bentuk dan upayanya. Ini bukan lagi obat yang manjur tetapi luka yang dibiarkan membengkak dan tak pernah sembuh. Ingrid Betancourt, dua orang sakit jiwa di Bulukumba dan karibku mengalaminya sebagai kenangan yang mungkin terburuk sepanjang sejarah hidup mereka. Kebebasan mungkin satu-satunya betadine yang menyembuhkan.

Mari melakukan ritual fang shen, membebaskan segala hasrat dan keinginan dari diri sendiri hingga utuh. Hirup bebasnya.

Rabu, 25 Juni 2008

sebuah kelahiran bernama kebahagiaan

Dari jalan-jalan menyusuri kota di malam yang panjang, sangat panjang. Lewat pukul 11 ketika mobil melaju menerobos malam. Dua orang di dalamnya terlena sepi, sampai salah seorang membuyarkan keheningan.

"Bagaimana malam ini? Apakah kamu bahagia?" jari-jarinya merengsek masuk di jemariku yang memegang kemudi setir mobil. Hampir seketika tanganku yang lengket basah karena keringat melamunkan fantasi bagaimana garis-garis ditangan kami menyatu bercinta dengan mesra dan seluruh pelepasannya adalah orgasme keringat tadi.

Kutatap balik dirinya. Selusur matanya yang sipit makin menyipit menunggu jawabanku. "Yah, kenapa tidak?" balasku sambil semakin meremas jemarinya lebih erat. Lebih banyak keringat kali ini.Arrrrghh....

Sejenak diam dan jemariku tetap bercinta hangat, ketika tiba-tiba tangannya dilepaskannya. Diambilnya tisu di hadapnya dan disekanya jemarinya. "Apa itu bahagia?" serunya sambil sibuk memainkan tisu, memilinnya hingga tak berbentuk.

Senyap semakin merengsek masuk melalui kaca mobilku, kutatap balik dirinya dan Aku terhempas pada kenangan pertemuan pertama kami. Pertemuan kami hanya sebuah perkenalan singkat dengan bahasa kasar perjodohan, dimana orangtua kami menjadikan kami bidak-bidak catur permainan bernama Hidup. Tapi kali ini bukan hidup mereka, tetapi Hidup kami.

Dari sekadar pertukaran nomor handphone, berlanjut ke hal-hal kecil yang juga orang lain lakukan semasa pacaran, ke bioskop, makan malam, dll. Pertemuan singkat kami akhirnya menjadikan kami lebih intens berhubungan dan akhirnya perjalanan kami hanya sebuah perjalanan yang aku pikir berbahasa kesamaan tanpa ikatan atau kata "Apakah kamu cinta aku?" atau "Apakah kamu mau menjadi pacarku?" Label perjodohan pada akhirnya membuatku merasa memilikinya tanpa perlu mengutarakan kata-kata itu.

Dan diperbatasan hari, hampir tengah malam pertanyaannya serasa membuatku terhenyak dan kembali membatin, bertanya "Apakah Dia bahagia?"

Kubuka mulutku berpacu dengan udara malam yang serasa ingin membekap mulutku dan kukoarkan jawaban. "Bahagia itu hanya sekadar skenario dimana kita menjadi pemeran utamanya."

Tisu ditangannya berhenti memilin dan tanpa diduga matanya berkaca-kaca sampai akhirnya terbentuklah sungai-sungai kecil di alur pipinya. Dari jarak yang tak sampai 30 cm Aku tak berani memperkecil jarak tadi dengan merengkuhnya dalam pelukku, laiknya film bernuansa romantis.

Sesuatu menahanku melakukan itu. Mungkin tak bisa melakukan itu semua karna tahu jarak itu bukanlah jarak yang dapat kuseberangi hanya dengan melangkah meraihnya. Suasananya seketika sendu dengan hanya ditemani suara kecil tangismu, kediamanku dan lagu berbahasa chinesse dari Ado berjudul "Hurt" melantun.

“Why Do You Hurt me so long?" begitu bunyi liriknya mendengung ketika Aku menghentikan mobilku tepat di depan pagar rumahmu. Kita masih diam.

Kuputuskan dengan sedikit keberanian tentu saja, mencondongkan kepalaku dekatmu, menyentuhkan garis bibirku sedikit bercinta dengan bibirmu dalam waktu yang tak sampai 30 detik. Kemudian menjauhkan wajahku dan berkata "Kau Bebas."

Engkau melangkah keluar dari mobilku, memunggungiku dan kali ini lebih banyak Air mata lagi di garis matamu. Air mata kebahagiaan, mungkin?

Lewat tengah malam ketika roda mobilku kembali berputar mendarat menggilas aspal, menyatakan seberapa banyak waktu yang telah Kita lewati bersama. Tapi kali ini Aku bersendirian.

Udara dingin dan sepi diluar. Lagu “Home” milik Michael Buble kuputar sambil mendendangkan lirik-liriknya bersendirian, feeling the same way like Buble. Maybe surrounded by a million people, I still feel all alone, I just wanna go home. I miss you, you know. I feel like I’m living someone else’s life. Another aeroplane, another sunny place, I’m lucky I know, but I just wanna go home. Let me go home. I’m just too far from where you are. I wanna come home.

Go home dan melegakan. Seperti melakukan tradisi Fang shen dalam tradisi Buddhis, yang ada hanya tak memiliki tetapi bahagia.

Jemari tanganku menggengam erat bercinta dengan kemudi setir mobilku, tapi kali ini tak ada keringat, hanya air mata yang setetes mengaliri pelupuk mataku, kuseka dengan jemariku, dan tanganku kembali basah. Oooops...

Senin, 23 Juni 2008

mencatat cacat dengan cat yang tak lagi pucat

Kami ditindas dalam segala hal, namun kami tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa" St. Paul

Helen Keller, Ludwig Van Beethoven, dan Ratna Indraswari Ibrahim mungkin saja tidak pernah bertatap muka. Dalam periode waktu yang berbeda, ketiga tokoh tersebut hanya dipersatukan oleh loncatan kuantum terbesar dalam sejarah hidup mereka masing-masing berupa 'kecacatan yang datangnya tiba-tiba'.

Helen Adams Keller mungkin tidak pernah menyangka dirinya yang lahir secara normal pada 27 Juni 1880 di suatu desa kecil di Nothwest Alabama, AS akan menjadi cacat. Tatkala menginjak usia 19 bulan Hellen jatuh sakit, penyakit yang kemudian diduga meningitis (namun sampai saat ini penyakit persisnya masih misterius) ini menyebabkannya kemudian kehilangan fungsi penglihatan dan pendengaran. Helen tumbuh menjadi seorang anak buta tuli, tumbuh sebagai anak yang sulit, dan temper tantrum.

Di bawah penanganan tepat dari gurunya, Anne Sulivan, yang juga memiliki cacat penglihatan jarak dekat, kekurangan-kekurangan Keller dapat teratasi. Ia dengan sangat mudah menangkap pelajaran yang diberikan, dan perkembangan kemajuan Keller yang sangat luar biasa menjadi buah bibir masyarakat. Ia dikenal sebagai penemu huruf Braille, metode membaca untuk orang buta. Hellen Keller adalah satu contoh konkrit anak cacat yang berbakat (handicapped gifted).

Helen Keller bukan satu-satunya orang yang mengalami kekagetan luar biasa saat mengalami kelumpuhan. Kisah yang sama turut menimpa Ludwig Van Beethoven, tokoh musik dan komponis jenius paling berpengaruh yang sukses merangkai sonata-simfoninya dengan komposisi instrumen.

Dibalik semua kesuksesannya dalam bermusik, Beethoven ternyata harus berjuang dengan penyakit pada pendengarannya yang mulai mengganggu dan pada tahun 1817 ia menjadi tuli sepenuhnya, yang membuatnya harus melepaskan karirnya sebagai pianis. Saat itulah ia meninggalkan Wina dan lebih banyak mengurung diri. Pada periode ini, Beethoven berhasil mencipta sebagian karya-karyanya yang terbesar.

Kisah patriotis kecacatan juga turut ditorehkan dari Tanah Air, Indonesia. Ratna Indraswari Ibrahim menuturkan cerita tentang dirinya dalam blog-nya dengan menyatakan demikian: "Saya mulai mengalami cacat tubuh pada usia sekitar 13 tahun, tapi prosesnya sejak saya berumur 10 tahun.” Tegasnya. Lebih lanjut Mbak Ratna menceritakan bahwa cacat tubuh yang menimpanya disebabkan oleh penyakit rachitis (radang tulang).

Maka tak heranlah, apabila Mbak Ratna punya foto dirinya ketika kondisi tubuhnya masih normal. Foto itu dipasang di kamarnya. Bahkan ada beberapa teman yang bercerita, ketika Mbak Ratna masih kecil dan tubuhnya belum cacat, punya hobi memanjat pohon seperti anak laki-laki. Ia anak yang amat dinamis. Nyatanya, Dia dapat menorehkan proses kreatifnya dalam mencipta ratusan cerpen dan buku dari atas kursi roda.

Merekam sejarah dan mencatatnya dari perspektif contoh ketiga tokoh tersebut membuat Aku berpikir bahwasanya ini bukan lagi tentang keterbatasan yang dikoar-koarkan atau malah digunakan sebagai senjata menarik simpati.

Ini tentang karya. Ini tentang pengalaman. Ini tentang kesederhanaan, penerimaan diri yang menyeluruh dan apa adanya. Ini tentang Hidup dan cara memaknainya.

Barangkali ini tentang semua catatan kecil yang akan Kita torehkan.

Catatan selama nafas masih dikehendaki menggelayut didada. Catatan pada siapa kita akan menceriterakan tentang diri kita di dunia. Mengenang kata bijak Eleanor Roosevelt : "Masa depan hanyalah milik orang-orang yang percaya pada keindahan mimpi-mimpi mereka."

Pada saat menulis blog ini Aku tidak hanya mencatat tetapi bermaksud menyebarkan catatan ini sebagai deskriptif dengan satu tujuan semata, yaitu menjadikan indah mimpi-mimpi buruk 'kecacatan', menjadikan kecacatan tak lagi gambaran pucat semata yang mengerus hidup tetapi pukulan telak bagi kita semua yang dianugerahi ke'normalan' raga.

Sebagai penutup izinkan saya mengutip kata-kata Si Buta Helen Keller sebagai permenungan kita semua, berikut :"Pabila Anda selalu menghadap ke matahari maka anda pun tidak akan melihat bayangan."

untuk Supriadi